Yussa Nugraha, Bertumbuh di Belanda dan Kesempatan Pulang ke Kota Tercinta | PERSIS Solo Official Website

Yussa Nugraha, Bertumbuh di Belanda dan Kesempatan Pulang ke Kota Tercinta

Yussa Nugraha, Bertumbuh di Belanda dan Kesempatan Pulang ke Kota Tercinta

Penyerang muda PERSIS, Yussa Nugraha memupuk mimpi menjadi pesepakbola sejak dini. Pada umur tujuh tahun, dirinya ikut melancong ke Belanda bersama orang tua dan memulai menimba ilmu sepak bola di sana. Berawal dari Den Haag, Yussa menjalani perjalanan panjang hingga ke Rotterdam sampai akhirnya kini pulang ke kampung halaman.

Oleh Tim Media PERSIS

16 Agustus 2021


SOLO - Mundur ke belakang sekitar 14 tahun yang lalu, gerombolan anak-anak di sore hari cerah sedang bergantian menendang bola waktu itu. Selayaknya mayoritas anak-anak di seluruh penjuru negeri, mereka bermain di salah satu sudut kompleks di Kota Surakarta. Bergegas mengambil bola, menuju lahan kosong, lalu asyik berebut si kulit bundar tanpa alas kaki hingga menjelang petang. Sampai akhirnya bubar karena adzan maghrib sudah berkumandang atau dipanggil orang tua tersayang untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. 


Mimpi yang tumbuh sejak dini

Siapa sangka, salah satu dari gerombolan anak tersebut kini sudah bertumbuh besar sebagai seorang profesional. Yussa Nugraha, selalu mempunyai ingatan masa kecil tersebut. Ingatan sesaat sebelum dirinya pergi meninggalkan teman-teman sebaya dari kompleks rumahnya,  untuk bertolak ke Negeri Kincir Angin di umur tujuh tahun.


“Sering sekali kangen Kota Solo, terlebih saya pernah sekolah di SMA 7 Surakarta selama 10 bulan pada 2016 lalu. Saya ingat waktu masih di TK (Taman Kanak-kanak) selalu main bola nyeker (tanpa alas kaki) sama teman-teman kompleks yang sebaya. Lalu suasana ketika setiap sore keluar kompleks dan main sama teman-teman sering sekali buat saya kangen kota ini (Solo),”ungkap Yussa. 


Sepak bola tumbuh sebagai hobi sejak Yussa masih berusia dini. Klub kebanggan warga Solo, PERSIS juga tak lekang dalam memori masa kecilnya. Hobi yang dipupuk sedari dini, kini membuahkan hasil bagi Yussa. Dari area kompleks, ia berguru di Kota Den Haag, Rotterdam, hingga akhirnya kembali ke kota yang ia cinta, Surakarta. 


“Sepak bola adalah hobi dari kecil. Setiap kali orang tua membelikan mainan saya selalu minta bola baik saat masih di sini (Indonesia) atau saat di Belanda. Ingatan tentang PERSIS waktu kecil cuma dengar namanya, dan belum hafal nama pemain. Cuma kalau ada pertandingan PERSIS, saya ingat dulu sering lihat rombongan suporternya yang luar biasa naik di atas truk dan bepergian untuk mendukung PERSIS. Sampai waktu saya di Belanda, pernah minta dibelikan kaos PERSIS.”


Budaya timur dan didikan orang tua

Mengarungi masa kecil dan tumbuh hingga remaja di wilayah asing tak membuat Yussa lupa dengan akarnya. Nilai dan budaya timur, khususnya Indonesia selalu diajarkan oleh lingkungan terdekat, yakni keluarga. Di saat pengaruh pergaulan bebas, kebebasan bertindak, dan obat-obatan terlarang beredar dengan leluasa, Yussa mampu menjaga diri berbekal didikan ayah dan ibu sejak kecil. 


“Dari kecil hingga remaja, saya dibesarkan di lingkungan dan kultur yang berbeda dengan Indonesia. Dari segi bahasa, pergaulan, dan budaya semua berbeda dengan apa yang ada di sini (Indonesia). Belanda terkenal dengan kebebasannya. Apalagi saat remaja, orang tua lebih ketat dalam membimbing karena Belanda terkenal dengan pergaulan bebasnya. Mulai 16 tahun, remaja di sana punya hak untuk menentukan jalannya sendiri tanpa orang tua masing-masing.” 


“Drugs atau obat-obatan (narkotika) yang dijual bebas juga lumrah di sana. Alhamdulillah berkat didikan orang tua dengan belajar agama dan adat timur, saya tidak terjerumus ke arah sana. Kendala yang agak susah itu di bahasa, kadang salah mengartikan,”imbuh pria penyuka tahu kupat dan soto tersebut sambil tersenyum.


Kesempatan pulang yang tidak disia-siakan

Setelah kurang lebih 13 tahun hidup dan meniti karir sepak bola di Belanda, Yussa tak menyia-nyiakan kesempatan pulang ke kampung halaman. Kesempatan itu ia dapatkan saat mendapat tawaran dari PERSIS beberapa bulan lalu. Keputusan pulang diambil Yussa dengan mudah dan kini ia telah menjadi bagian dari Laskar Sambernyawa. 


Happy banget! Begitu mendengar ada tawaran bergabung dengan PERSIS lewat agen, tanpa pikir panjang saya mengiyakan dan menolak tawaran dari dua klub Liga 1 yang saat itu juga sedang mendekati.” 


Bergabung sejak Mei lalu, terhitung tiga bulan Yussa berada dalam skuad PERSIS. Adaptasi menjadi tantangannya selama tiga bulan ke belakang. Namun, hal tersebut menjadi proses yang menyenangkan bagi Yussa karena dikelilingi oleh penggawa lain yang sudah ia anggap seperti keluarga kedua. 


“Selama tiga bulan di Solo, saya banyak adaptasi terutama dengan cuaca ekstrim yang panas dan perbedaan permainan sepak bola yang mencolok. Kalau di Belanda lebih mengutamakan bola-bola pendek, satu dua sentuhan, dan taktikal, kalau di Indonesia lebih ke kecepatan, bola lambung, dan umpan-umpan jauh yang sangat perlu aku pelajari saat ini untuk beradaptasi. Pemain senior, coach, dan staf di sini sangat membantu dalam melakukan adaptasi. Mereka benar-benar seperti keluarga, orang tua, dan kakak.”


Di posisi lini serang PERSIS yang juga menjadi pos reguler Yussa, terdapat 11 penyerang lain dengan beragam karakteristik dan latar belakang yang siap memberikan kemampuan terbaik bagi PERSIS. Persaingan ketat tersebut tak lantas membuat Yussa melemah. Justru suasana persaingan yang sehat itu, ia manfaatkan untuk mendorong motivasi bekerja keras demi menembus tim inti.


“Suasana dalam tim jujur sangat ketat di tiap posisi. Terutama di posisi saya, yakni lini depan. Tapi suasana sehat, walaupun banyak pemain bintang dengan label timnas, namun mereka selalu sharing dan membantu. Dari dalam diri sendiri juga jadi termotivasi untuk kerja keras melakukan yang terbaik dan belajar dari pemain senior lainnya karena mereka sudah punya pengalaman bermain di Liga Indonesia.”


Tiga bulan usai datang ke kampung halaman, Yussa perlahan kembali menikmati kenyamanan yang ditawarkan Solo dan seisinya. Di luar lapangan dan di luar jam latihan, Yussa menghabiskan waktu untuk berkeliling melihat kota yang sudah lama ia tinggal, bertemu dengan sanak saudara, dan tetap menjaga kebugaran fisik dengan latihan mandiri di waktu luang. 


“Biasanya menghabiskan waktu luang di luar latihan dengan naik motor keliling Solo saja. Lalu main ke rumah ketemu dua kakak perempuan, makan bersama di luar sebelum PPKM kemarin, nonton film, dan fitness. Di Solo saya juga suka makan tahu kupat dan soto. Sejauh ini baru itu yang dilakukan dan belum ke luar kota atau pergi jauh.”

Kata Kunci Terkait


  • Pemain
  • Yussa Nugraha
  • Belanda
  • PERSIS

Berita Lainnya


Bergabung Bersama Kami

Daftar di sini untuk mendapatkan berita terbaru, pembaruan, dan penawaran khusus yang dikirim langsung ke kotak masuk Anda

Copyright © 2021 PERSIS Solo